Ini adalah sebuah catatan memorial kecil mengenai perjalanan
saya ke Gili Kondo yang merupakan salah satu wisata alam cantik yang terletak
di Kabupaten Lombok Timur.
This Is My Story…
Bermula dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang kami
lakukan di Lombok Timur, belokasi di Kecamatan Labuhan Haji. KKN merupakan mata
kuliah wajib universitas yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa/I yang
berkuliah di UGM. KKN yang kami jalankan berlangsung selama hampir dua bulan
penuh sejak awal Juli hingga akhir Agustus.
Saya pribadi memutuskan untuk mengikuti KKN di Lombok Timur,
sebab di samping ingin mencari pengalaman bermasyarakat di luar Jawa, Pulau
Lombok disebut-sebut memiliki berbagai panorama alam yang sangat indah, bahkan
pantainya pun menurut banyak orang memiliki keindahan yang lebih bagus
dibandingkan dengan pantai di Pulau Bali.
Kalau tidak salah ingat, tepatnya pada tanggal 26 Agustus
2011 di bulan Ramadhan, saat itu semua program KKN sudah tuntas, dan pada pagi
harinya, beberapa dari teman kami (tim KKN berjumlah 26 orang) sudah
meninggalkan lokasi untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing. Saya
bersama 7 orang teman (terdiri dari Novan, Rivan, Ikhsan, Bayu, Simbah, Erryd,
dan Nia), sudah memiliki agenda
tersendiri pasca selesainya program KKN, yakni berwisata ke Gili Kondo.
Beberapa hari sebelum agenda itu, kami ditawari oleh Pak
Perama (Owner Perama Group, sebuah
biro perjalanan wisata yang ada di Lombok Timur) yang pada saat itu bertemu tim
KKN di acara silaturahmi bersama Bupati Lombok Timur, untuk berlibur di Gili
Kondo menggunakan fasilitas perjalanan dan akomodasi miliki beliau, free!. Singkat cerita, setelah Novan
sebagai “PJ” kami berkoordinasi dan bernegosiasi dengan pihak Perama group untuk menyesuaikan jadwal agenda kami,
akhirnya hanya kami ber-8 yang dapat ikut.
Pagi itu juga, sebelum kami berangkat, Novan juga mengajak
sebuah keluarga yang berasal dari jerman yang dikenalnya beberapa hari
sebelumnya. Mereka adalah Mr. Norbert, Mrs. Lejla, dan kedua anaknya yang
bernama Sarah dan Shireen, ditambah temannya Mrs. Lejla yang asli dari Lombok
Timur . Kami berangkat menuju lokasi sekitar pukul 09.00 menggunakan engkel
menuju lokasi penyebrangan. Perjalanan kira-kira memakan waktu sekitar 1,5 jam
dari Labuhan Haji. Sesampainya di penyebrangan, kami singgah sebentar di
basecamp penyebrangan milik Perama Group yang juga tempat bersandarnya beberapa
dock (sejenis kapal sedang yang
dibuat dari kayu) yang digunakan sebagai transportasi penyebrangan ke Gili,
Sumbawa, hingga Flores. Di sana kemudian kami bertemu salah seorang pengelola
teknis Perama Group (kalau nggak salah namanya Pak Sudjana), dan setelah
melakukan pengecekan, kemudian kami berangkat menumpang dock yang membawa banyak turis asing menuju Sumbawa.
Penyebrangan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Ini juga
pertama kalinya saya menaiki dock
wisata, sebab biasanya saya hanya menggunakan kapal Ferry jika melakukan penyebrangan antar pulau, atau perahu motor
yang ukurannya relatif kecil. Rombongan kami dibagi menjadi 2 kelompok
penumpang. Saya bersama Novan, Rivan, Sarah, Erryd, Nia dan Simbah berada dalam
dock yang sama, sedangkan Ikhsan,
Bayu, Mr. Norbert dan Mrs. Lejla berada dalam dock yang terpisah.
Sepanjang perjalanan penyebrangan, pesona alam yang terlihat
di sekitar kami sangat memanjakan. Nampak gugusan Pulau Sumbawa di sebelah
timur yang gersang namun eksotik, sedangkan semakin menjauhi pelabuhan, Pulau
Lombok semakin terlihat gagah dengan perbukitannya, apalagi Rinjani yang
menjulang tinggi semakin menambah pesona Pulau Lombok. Setelah kurang lebih 45
menit, kami akhirnya tiba di lokasi tujuan. Dock
kami pun mulai merapat ke pantai secara perlahan. Kami kemudian turun dan
dijemput oleh perahu motor kecil hingga tiba di pesisir pantai.
Terlihat jelas di depan kami sebuah pulau kecil yang relatif
datar menghampar luas, dengan pasirnya yang amat putih dan air lautnya yang
nampak bening namun bergradasi. Kami kemudian langsung bergegas menuju area
pondokan kecil yang tersedia untuk meletakkan semua bawaan kami.
Gili Kondo merupakan salah satu dari sekian gili yang ada di
Pulau Lombok. “Gili” dalam Bahasa Indonesia berarti “Pulau”. Sebenarnya, lokasi
yang kami pijak ini adalah Gili Bagik. “Bagik” berarti Pohon Asam, sebab di
lokasi ini memang dulunya banyak ditumbuhi Pohon Asam. Sedangkan Gili Kondo
yang sebenarnya terletak di samping Gili Bagik, dan untuk menuju kesana dapat
berjalan menyusuri dataran pasir dan karang, namun apabila terjadi pasang, maka
lintasan yang ada tertutup oleh air. Lokasi Gili Kondo secara administratif
berada di Kecamatan Sambelia (±50 Km utara kota Selong, Lombok
Timur).
Mungkin hingga saat ini Gili yang sangat populer dikenal di
masyarakat kita adalah Gili Trawangan, sehingga Gili Kondo tidak terlalu
dikenal oleh kebanyakan turis. Benar saja, saat kami menjejakkan kaki di sana,
hampir semua turis yang berkunjung adalah turis asing selain pemandu dan
penjaga kafe kecil yang merupakan penduduk lokal, itupun jumlahnya tidak
terlalu banyak, sehingga dapat dikatakan relatif sepi.
Tidak seperti Gili Trawangan, Gili Kondo menurut saya memang
menjanjikan suatu destinasi wisata dengan suasana yang sangat tenang. Bahkan
hampir tidak ada sampah yang saya lihat di sana, karena suasananya memang masih
cukup terjaga. Kalau tidak salah di sana tersedia sekitar tiga pondokan kecil yang
terbuat dari bambu, ditambah satu kafetaria.
Setelah meletakkan semua barang kami, saya langsung merapat
ke pesisir pantai, mengambil alat snorkling
yang sudah disediakan, kemudian…tancap gas! Terlihat gugusan terumbu karang
muda di bahwa permukaan air dengan corak warna yang bervariasi. Bahkan di
perairan yang dangkal pun, saya menemukan objek laut berupa bintang laut cantik
berwarna biru gelap. Bahkan tak jarang ular laut pun sering melintas di
perairan tersebut. Saya sendiri kemudian langsung berbalik ke pinggir pantai
begitu melihat ada ular yang melintas. Ternyata setelah saya tanyakan kepada
pemandu wisata, memang daerah tersebut menjadi sarang ular laut. Saya sendiri
dua kali melihat ular laut di lokasi tersebut. Di sana juga tersedia fasilitas
jaring dan bola voli, sehingga saya juga menyempatkan bermain voli pantai
bersama beberapa turis asing.
Menjelang maghrib, berhubung saat itu bulan Ramadhan, kami
tak lupa menyegerakan berbuka puasa. Kebetulan keluarga dari Jerman yang kami
ajak merupakan keluarga muslim sehingga kami kemudian menyantap hidangan
berbuka puasa yang sudah disediakan oleh pihak pengelola pantai. Sebuah momentum
yang memang tak terlupakan, berbuka bersama di tengah-tengah pulau cantik
diiringi sunset dan suara ombak yang
relatif tenang.
Saat waktu menjelang malam, kami kemudian berkumpul di dekat
kafetaria yang berada di tengah pulau. Pihak pengelola pantai juga sudah
menyediakan api unggun serta menghidangkan makanan khas laut yang tentunya
menggugah selera. Di malam itu, semua
pengunjung berkumpul di dekat api unggun, sambil menyantap aneka makanan laut
serta diiringi musik akustik oleh para pemandu. Saya pun ikut menyantap ikan
bakar dan salad segar.
Saat malam semakin larut,
pemandu kemudian memperkenalkan tarian poco-poco khas Indonesia kepada
para turis asing yang singgah sebelum mereka meninggalkan lokasi. Para turis
terlihat senang sekali saat mengikuti gerakan yang diperagakan oleh pemandu.
Hingga acara tersebut berakhir, Sarah malah nampaknya terlihat sangat tertarik
dengan tarian tersebut hingga meminta pemandu mengajarkannya berulang-ulang.
Setelah acara berakhir semua turis meninggalkan lokasi,
kecuali kami. Kemudian di tengah-tengah suasana sepi, deburan ombak dan
semilirnya angin, kemudian Mrs. Lejla mengajak untuk solat tarawih berjamaah.
Saat itu terasa hening sekali, sebab baru ini saya melakukan ibadah ritual di
tempat seperti itu, sehingga kekhusyuan dapat terbangun dengan baik.
Setelahnya, kami kemudian melakukan obrolan ringan dengan keluarga tersebut
setelah seharian menikmati keindahan alam sekitar hingga kemudian satu per satu
mulai tidur di pondokannya masing-masing agar terbangun di pagi harinya untuk
menjalankan sahur. Tinggal Bayu dan Sarah yang nampak masih asik dan larut
dalam “harmoni ala Bruno Mars”.
Keesokan harinya, kami segera bergegas melihat sunrise. Udara pagi itu sangat segar, ditambah
pesona laut yang bergradasi. Kami kemudian berkeliling di sekitar pulau dan
juga mengunjungi “The Truly Gili Kondo”.
Gili tersebut juga masih alami, hingga hanya terdapat pepohonan bakau dan
alang-alang. Saat kembali ke Gili Kondo, di sepanjang pasir putih yang
menghampar, terlihat banyak sekali karang-karang (seperti batu apung) berwarna
merah. Daerah tersebut juga memiliki pesona tersendiri, sebab pecahan-pecahan
karang tadi kemudian menyatu dengan pasir putih, sehingga pasirnya menjadi
nampak putih kemerah-merahan.
Sebelum kami pulang, ada sedikit insiden di mana pocket kamera milik Erryd yang kami
pinjam terjatuh di sekitar pulau, sehingga kami kemudian mengelilingi pulau
demi mendapatkan pocket tersebut agar
Erryd tidak semakin “ngambek”. Beruntungnya akhirnya pocket tersebut di temukan di antara bebatuan karang.
Hingga kira-kira pukul 09.00, kami kemudian bersiap-siap
untuk kembali pulang. Pak Sudjana sebagai salah satu pengelola teknis kemudian
menjemput kami di lokasi dan mengantar kami kembali ke pelabuhan menggunakan
kapal motor kecil. Setibanya di lokasi,
kami pun berpisah dengan Mrs. Lejla dan keluarganya, lalu kami bersiap untuk
meneruskan agenda kami lainnya.
In The End…
Itulah sepenggal catatan saat saya berada di Lombok Timur dan
mengunjungi Gili Kondo, salah satu surga kecil yang ada di Indonesia. Dari
perjalanan tersebut, saya merenungkan bahwa kita sebagai orang Indonesia
seharusnya bangga akan wilayah kita. Indonesia bukanlah Jawa, Sumatera, atau
Bali. Indonesia adalah gugusan pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke. Indonesia adalah tanah emas yang diberikan Tuhan kepada kita.
So, buktikan rasa bersyukur kita kepada Tuhan dengan
mencintai Indonesia melalui “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Kunjungi
Wisata Alamnya”.
Ditulis pada 19 Januari
2013, juga sebagai bentuk promosi wisata di Indonesia.


