Sabtu, 19 Januari 2013

Gili Kondo: Surga Kecil yang Mempesona

Ini adalah sebuah catatan memorial kecil mengenai perjalanan saya ke Gili Kondo yang merupakan salah satu wisata alam cantik yang terletak di Kabupaten Lombok Timur.

This Is My Story…
Bermula dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang kami lakukan di Lombok Timur, belokasi di Kecamatan Labuhan Haji. KKN merupakan mata kuliah wajib universitas yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa/I yang berkuliah di UGM. KKN yang kami jalankan berlangsung selama hampir dua bulan penuh sejak awal Juli hingga akhir Agustus.

Saya pribadi memutuskan untuk mengikuti KKN di Lombok Timur, sebab di samping ingin mencari pengalaman bermasyarakat di luar Jawa, Pulau Lombok disebut-sebut memiliki berbagai panorama alam yang sangat indah, bahkan pantainya pun menurut banyak orang memiliki keindahan yang lebih bagus dibandingkan dengan pantai di Pulau Bali.

Kalau tidak salah ingat, tepatnya pada tanggal 26 Agustus 2011 di bulan Ramadhan, saat itu semua program KKN sudah tuntas, dan pada pagi harinya, beberapa dari teman kami (tim KKN berjumlah 26 orang) sudah meninggalkan lokasi untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing. Saya bersama 7 orang teman (terdiri dari Novan, Rivan, Ikhsan, Bayu, Simbah, Erryd, dan Nia),  sudah memiliki agenda tersendiri pasca selesainya program KKN, yakni berwisata ke Gili Kondo.

Beberapa hari sebelum agenda itu, kami ditawari oleh Pak Perama (Owner Perama Group, sebuah biro perjalanan wisata yang ada di Lombok Timur) yang pada saat itu bertemu tim KKN di acara silaturahmi bersama Bupati Lombok Timur, untuk berlibur di Gili Kondo menggunakan fasilitas perjalanan dan akomodasi miliki beliau, free!. Singkat cerita, setelah Novan sebagai “PJ” kami berkoordinasi dan bernegosiasi dengan pihak Perama group  untuk menyesuaikan jadwal agenda kami, akhirnya hanya kami ber-8 yang dapat ikut.

Pagi itu juga, sebelum kami berangkat, Novan juga mengajak sebuah keluarga yang berasal dari jerman yang dikenalnya beberapa hari sebelumnya. Mereka adalah Mr. Norbert, Mrs. Lejla, dan kedua anaknya yang bernama Sarah dan Shireen, ditambah temannya Mrs. Lejla yang asli dari Lombok Timur . Kami berangkat menuju lokasi sekitar pukul 09.00 menggunakan engkel menuju lokasi penyebrangan. Perjalanan kira-kira memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Labuhan Haji. Sesampainya di penyebrangan, kami singgah sebentar di basecamp penyebrangan milik Perama Group yang juga tempat bersandarnya beberapa dock (sejenis kapal sedang yang dibuat dari kayu) yang digunakan sebagai transportasi penyebrangan ke Gili, Sumbawa, hingga Flores. Di sana kemudian kami bertemu salah seorang pengelola teknis Perama Group (kalau nggak salah namanya Pak Sudjana), dan setelah melakukan pengecekan, kemudian kami berangkat menumpang dock yang membawa banyak turis asing menuju Sumbawa.

Penyebrangan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Ini juga pertama kalinya saya menaiki dock wisata, sebab biasanya saya hanya menggunakan kapal Ferry jika melakukan penyebrangan antar pulau, atau perahu motor yang ukurannya relatif kecil. Rombongan kami dibagi menjadi 2 kelompok penumpang. Saya bersama Novan, Rivan, Sarah, Erryd, Nia dan Simbah berada dalam dock yang sama, sedangkan Ikhsan, Bayu, Mr. Norbert dan Mrs. Lejla berada dalam dock yang terpisah.

Sepanjang perjalanan penyebrangan, pesona alam yang terlihat di sekitar kami sangat memanjakan. Nampak gugusan Pulau Sumbawa di sebelah timur yang gersang namun eksotik, sedangkan semakin menjauhi pelabuhan, Pulau Lombok semakin terlihat gagah dengan perbukitannya, apalagi Rinjani yang menjulang tinggi semakin menambah pesona Pulau Lombok. Setelah kurang lebih 45 menit, kami akhirnya tiba di lokasi tujuan. Dock kami pun mulai merapat ke pantai secara perlahan. Kami kemudian turun dan dijemput oleh perahu motor kecil hingga tiba di pesisir pantai.

Terlihat jelas di depan kami sebuah pulau kecil yang relatif datar menghampar luas, dengan pasirnya yang amat putih dan air lautnya yang nampak bening namun bergradasi. Kami kemudian langsung bergegas menuju area pondokan kecil yang tersedia untuk meletakkan semua bawaan kami.

Gili Kondo merupakan salah satu dari sekian gili yang ada di Pulau Lombok. “Gili” dalam Bahasa Indonesia berarti “Pulau”. Sebenarnya, lokasi yang kami pijak ini adalah Gili Bagik. “Bagik” berarti Pohon Asam, sebab di lokasi ini memang dulunya banyak ditumbuhi Pohon Asam. Sedangkan Gili Kondo yang sebenarnya terletak di samping Gili Bagik, dan untuk menuju kesana dapat berjalan menyusuri dataran pasir dan karang, namun apabila terjadi pasang, maka lintasan yang ada tertutup oleh air. Lokasi Gili Kondo secara administratif berada di Kecamatan Sambelia (±50 Km utara kota Selong, Lombok Timur).

Mungkin hingga saat ini Gili yang sangat populer dikenal di masyarakat kita adalah Gili Trawangan, sehingga Gili Kondo tidak terlalu dikenal oleh kebanyakan turis. Benar saja, saat kami menjejakkan kaki di sana, hampir semua turis yang berkunjung adalah turis asing selain pemandu dan penjaga kafe kecil yang merupakan penduduk lokal, itupun jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga dapat dikatakan relatif sepi.

Tidak seperti Gili Trawangan, Gili Kondo menurut saya memang menjanjikan suatu destinasi wisata dengan suasana yang sangat tenang. Bahkan hampir tidak ada sampah yang saya lihat di sana, karena suasananya memang masih cukup terjaga. Kalau tidak salah di sana tersedia sekitar tiga pondokan kecil yang terbuat dari bambu, ditambah satu kafetaria.

Setelah meletakkan semua barang kami, saya langsung merapat ke pesisir pantai, mengambil alat snorkling yang sudah disediakan, kemudian…tancap gas! Terlihat gugusan terumbu karang muda di bahwa permukaan air dengan corak warna yang bervariasi. Bahkan di perairan yang dangkal pun, saya menemukan objek laut berupa bintang laut cantik berwarna biru gelap. Bahkan tak jarang ular laut pun sering melintas di perairan tersebut. Saya sendiri kemudian langsung berbalik ke pinggir pantai begitu melihat ada ular yang melintas. Ternyata setelah saya tanyakan kepada pemandu wisata, memang daerah tersebut menjadi sarang ular laut. Saya sendiri dua kali melihat ular laut di lokasi tersebut. Di sana juga tersedia fasilitas jaring dan bola voli, sehingga saya juga menyempatkan bermain voli pantai bersama beberapa turis asing.

Menjelang maghrib, berhubung saat itu bulan Ramadhan, kami tak lupa menyegerakan berbuka puasa. Kebetulan keluarga dari Jerman yang kami ajak merupakan keluarga muslim sehingga kami kemudian menyantap hidangan berbuka puasa yang sudah disediakan oleh pihak pengelola pantai. Sebuah momentum yang memang tak terlupakan, berbuka bersama di tengah-tengah pulau cantik diiringi sunset dan suara ombak yang relatif tenang.

Saat waktu menjelang malam, kami kemudian berkumpul di dekat kafetaria yang berada di tengah pulau. Pihak pengelola pantai juga sudah menyediakan api unggun serta menghidangkan makanan khas laut yang tentunya menggugah selera.  Di malam itu, semua pengunjung berkumpul di dekat api unggun, sambil menyantap aneka makanan laut serta diiringi musik akustik oleh para pemandu. Saya pun ikut menyantap ikan bakar dan salad segar.

Saat malam semakin larut,  pemandu kemudian memperkenalkan tarian poco-poco khas Indonesia kepada para turis asing yang singgah sebelum mereka meninggalkan lokasi. Para turis terlihat senang sekali saat mengikuti gerakan yang diperagakan oleh pemandu. Hingga acara tersebut berakhir, Sarah malah nampaknya terlihat sangat tertarik dengan tarian tersebut hingga meminta pemandu mengajarkannya berulang-ulang.

Setelah acara berakhir semua turis meninggalkan lokasi, kecuali kami. Kemudian di tengah-tengah suasana sepi, deburan ombak dan semilirnya angin, kemudian Mrs. Lejla mengajak untuk solat tarawih berjamaah. Saat itu terasa hening sekali, sebab baru ini saya melakukan ibadah ritual di tempat seperti itu, sehingga kekhusyuan dapat terbangun dengan baik. Setelahnya, kami kemudian melakukan obrolan ringan dengan keluarga tersebut setelah seharian menikmati keindahan alam sekitar hingga kemudian satu per satu mulai tidur di pondokannya masing-masing agar terbangun di pagi harinya untuk menjalankan sahur. Tinggal Bayu dan Sarah yang nampak masih asik dan larut dalam “harmoni ala Bruno Mars”.

Keesokan harinya, kami segera bergegas melihat sunrise. Udara pagi itu sangat segar, ditambah pesona laut yang bergradasi. Kami kemudian berkeliling di sekitar pulau dan juga mengunjungi “The Truly Gili Kondo”. Gili tersebut juga masih alami, hingga hanya terdapat pepohonan bakau dan alang-alang. Saat kembali ke Gili Kondo, di sepanjang pasir putih yang menghampar, terlihat banyak sekali karang-karang (seperti batu apung) berwarna merah. Daerah tersebut juga memiliki pesona tersendiri, sebab pecahan-pecahan karang tadi kemudian menyatu dengan pasir putih, sehingga pasirnya menjadi nampak putih kemerah-merahan.

Sebelum kami pulang, ada sedikit insiden di mana pocket kamera milik Erryd yang kami pinjam terjatuh di sekitar pulau, sehingga kami kemudian mengelilingi pulau demi mendapatkan pocket tersebut agar Erryd tidak semakin “ngambek”. Beruntungnya akhirnya pocket tersebut di temukan di antara bebatuan karang.

Hingga kira-kira pukul 09.00, kami kemudian bersiap-siap untuk kembali pulang. Pak Sudjana sebagai salah satu pengelola teknis kemudian menjemput kami di lokasi dan mengantar kami kembali ke pelabuhan menggunakan kapal motor kecil.  Setibanya di lokasi, kami pun berpisah dengan Mrs. Lejla dan keluarganya, lalu kami bersiap untuk meneruskan agenda kami lainnya.

In The End…
Itulah sepenggal catatan saat saya berada di Lombok Timur dan mengunjungi Gili Kondo, salah satu surga kecil yang ada di Indonesia. Dari perjalanan tersebut, saya merenungkan bahwa kita sebagai orang Indonesia seharusnya bangga akan wilayah kita. Indonesia bukanlah Jawa, Sumatera, atau Bali. Indonesia adalah gugusan pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah tanah emas yang diberikan Tuhan kepada kita.

So, buktikan rasa bersyukur kita kepada Tuhan dengan mencintai Indonesia melalui “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Kunjungi Wisata Alamnya”.

Ditulis pada 19 Januari 2013, juga sebagai bentuk promosi wisata di Indonesia.


Minggu, 06 Januari 2013

Prologue



PROLOG


“Lebih baik menulis dan jadi sampah, daripada tidak menulis dan jadi sampah di pikiran”
[Prof. Mubyarto]

Quote di atas merupakan salah satu petuah inspiratif yang dituturkan oleh seorang pakar ekonomi kerakyatan  dan seharusnya mendorong bagi siapapun agar tertarik untuk mengekspresikan ide-ide segarnya dalam hal apapun.

 Blog ini pun saya buat dengan latar belakang pada saat saya membaca sebuah buku tipis (yang diberikan pada saat menjadi MABA), dan di dalamnya terdapat quote dari sang profesor tersebut. Sejenak saya berfikir, sewaktu dulu saat SMA, saya cukup menyukai kegiatan “ketik-mengetik” (baca: menulis), apapun itu, entah sebatas paper tugas dari guru, ataupun makalah-makalah perlombaan. Di saat kuliah pun, baik tugas dari dosen atau pada saat aktif di organisasi, saya juga cukup menyukai kegiatan menulis (meskipun hasil tulisan bisa dihitung dengan jari).

Saya termasuk orang yang hobi membaca dan mengoleksi buku. Bagi saya, buku sama pentingnya dengan uang dan waktu, sebab melalui buku, berbagai ilmu terdokumentasikan dengan baik. Lalu apa kaitannya dengan menulis? Bagi saya, seringnya membaca buku dapat memperluas wawasan dan ide-ide baru, akan tetapi, beberapa kurun waktu terakhir, saya sering berfikir pada diri sendiri buat apa jika berbagai pengetahuan yang terserap hanya ter-endap di dalam pikiran saja? Pemikiran sederhana tersebut kemudian mendorong saya untuk memulai cara sederhana (dengan membuat blog ini). Paling tidak dengan blog ini, apapun yang ada di pikiran saya, jika ingin saya buang (baca: ekspresikan), bisa terdokumentasi dalam kalimat-kalimat sederhana.

Sebenarnya, saat saya masih dalam masa awal kuliah, saya pernah membuat blog, namun hanya beberapa tulisan dan pada akhirnya blog tersebut akhirnya hanya menjadi blog sampah di dunia maya (karena tidak pernah saya posting tulisan-tulisan lagi). Mengapa demikian? Sederhana, budaya “malas” menyerang saya hingga pada saat saya menempuh tugas akhir (baca: skripsi), kesadaran untuk mulai menulis baru muncul lagi. Bagi saya menulis itu sebuah kenikmatan proses, akan tetapi karena alasan klasik terkadang saya sering malas untuk memulai dan pada akhirnya hanya menjadi wacana dan niat saja.

Terakhir, dari beberapa untaian paragraf di atas yang menjadi “curhatan” awal saya, blog ini akan terus saya update dengan berbagai tulisan sederhana, dan harapannya dapat menjadi bahan informasi sekaligus sharing bagi para pembaca.

Yogyakarta, 7 Januari 2013